Miss. Ice Cream
Ini sudah
mangkuk es krim ketiga yang aku lahap malam itu, tak peduli aku sudah dua jam
duduk di kedai ini. Pelayan tua kedai itu kadang sesekali memalingkan
tatapannya dari Koran pagi harinya kearah ku. Mungkin dia pikir aku kurang
waras, di cuaca sedingin ini dan sedang hujan deras diluar sana, ada cowok yang
masih menikmati es krim sampai mangkuk keempat, tenang saja pak tua gumam ku
dalam hati mungkin akan ada mangkuk yang kelima, keenam, ketujuh dan
seterusnya. Aku tak peduli.
Hap, sendok demi sendok aku nikmati, tatapanku hanya menatap kosong pada suatu titik sembarang di sudut kedai itu. kenangan demi kenangan aku putar di pelupuk mataku, seperti komedi putar yang sedang memutar scene demi scene. Membuat hati ini campur aduk dan sedikit sesak. Me-rewind semua rutinitas gila makan es krim ini dari mana asalnya, kalo bukan dari dirinya.
Hap, sendok demi sendok aku nikmati, tatapanku hanya menatap kosong pada suatu titik sembarang di sudut kedai itu. kenangan demi kenangan aku putar di pelupuk mataku, seperti komedi putar yang sedang memutar scene demi scene. Membuat hati ini campur aduk dan sedikit sesak. Me-rewind semua rutinitas gila makan es krim ini dari mana asalnya, kalo bukan dari dirinya.
#Flashback
3 tahun yang lalu. Di kedai es krim yang sama
Wajahnya yang sedikit pucat dan tirus, rambut nya yang agak panjang, sedikit berantakan, dia tersenyum menatap ku penasaran, menunggu pendapatku tentang rasa es krim yang barusan aku cicipi.
“Gimana?” tatapnya penasaran, air mukanya mulai serius melihat ekspresiku yang mengerutkan dahi seperti ada yang salah dengan es krim yang kumakan.
“Tunggu!” jawabku sambil memutar mata seolah berfikir serius mendikripsikan Sesuatu yang sedang lumer dilidahku, lalu ku coba sesendok lagi, sok-sokan lagaku seperti tester sejati.
“Enaak !!” Seru ku.
Dia tersenyum kecil dan menjewer pipiku, protes melihat ekspresi ku yang menipu. Aku lantas mengerenyit sambil mengusap pipiku yang dijewernya.
Ya, Dialah Rave .Rave dan Aku pertama kali bertemu di laboratorium praktikum kimia dasar, Dia yang mengembalikan modul praktikumku yang tertinggal di laboratorium. Disitulah kami berkenalan, dia sebenarnya seniorku di kampus, usianya terpaut satu tahun lebih tua dari umurku.
Rave mengambil cuti selama satu tahun di awal perkuliahan oleh sebab itu ia sering meminjam buku catatanku untuk mengejar ketinggalannya. Sebagai imbalan nya Rave sering mentaktirku es krim. Berawal dari sebuah catatan dan secorong es krim di kantin kampus-lah pertemanan kami semakin akrab.
Rave dan aku adalah sosok manusia yang mempunyai hobi yang berlawanan, Rave adalah cewek kalem dengan hobi membuat cake atau makanan manis. Sedangkan aku adalah cowok aktif dengan hobi nonton sepak bola dan nonton serial anime.
3 tahun yang lalu. Di kedai es krim yang sama
Wajahnya yang sedikit pucat dan tirus, rambut nya yang agak panjang, sedikit berantakan, dia tersenyum menatap ku penasaran, menunggu pendapatku tentang rasa es krim yang barusan aku cicipi.
“Gimana?” tatapnya penasaran, air mukanya mulai serius melihat ekspresiku yang mengerutkan dahi seperti ada yang salah dengan es krim yang kumakan.
“Tunggu!” jawabku sambil memutar mata seolah berfikir serius mendikripsikan Sesuatu yang sedang lumer dilidahku, lalu ku coba sesendok lagi, sok-sokan lagaku seperti tester sejati.
“Enaak !!” Seru ku.
Dia tersenyum kecil dan menjewer pipiku, protes melihat ekspresi ku yang menipu. Aku lantas mengerenyit sambil mengusap pipiku yang dijewernya.
Ya, Dialah Rave .Rave dan Aku pertama kali bertemu di laboratorium praktikum kimia dasar, Dia yang mengembalikan modul praktikumku yang tertinggal di laboratorium. Disitulah kami berkenalan, dia sebenarnya seniorku di kampus, usianya terpaut satu tahun lebih tua dari umurku.
Rave mengambil cuti selama satu tahun di awal perkuliahan oleh sebab itu ia sering meminjam buku catatanku untuk mengejar ketinggalannya. Sebagai imbalan nya Rave sering mentaktirku es krim. Berawal dari sebuah catatan dan secorong es krim di kantin kampus-lah pertemanan kami semakin akrab.
Rave dan aku adalah sosok manusia yang mempunyai hobi yang berlawanan, Rave adalah cewek kalem dengan hobi membuat cake atau makanan manis. Sedangkan aku adalah cowok aktif dengan hobi nonton sepak bola dan nonton serial anime.
Miss. Ice Cream
adalah panggilanku untuknya. Cewek berbadan kurus dan tinggi ini bisa di bilang
tergila gila dengan es krim, seperti sesuatu yang tak bisa di pisahkan. Karena
hobi dan mimpinya ingin mempunyai usaha di bidang kuliner itu, Rave mengambil
Cooking Class khusus membuat pastry. Rave termasuk golongan cewek yang cantik
dan tak banyak bicara, Terkadang Rave tidak bisa ditebak serta penuh kejutan.
Sore itu, Rave
dengan sengaja menculikku dari kampus, Rave mengajakku berkunjung ke kedai es
krim yang konon katanya sudah ada sejak jaman kolonial belanda. dan aku percaya
itu, karena bangunan kedai itu sudah tua, interior kedai itu pun terlihat
seperti di museum–mesueum sejarah, seperti meja kasir dan pintu yang sedikit
tinggi terbuat dari kayu oak yang berpelitur, mesin kasir nya pun antik dengan
type model tua, disisi sebelah kiri kedai terdapat roti-roti yang masih hangat
terpajang dalam etalase tua, Demikian juga alat penimbangan kue yang sudah tua,
bahkan pelayan nya pun tak ada yang muda, semua tua.
Rave bercerita sambil menerawang kearah langit-langit, kalo dia sering makan es krim disini ketika masih kecil bersama ibunya. Ia menceritakan kesukaannya terhadap tempat ini dan kegemaran nya makan es krim, alasan dirinya suka sekali makan es krim karena ibunya pernah mengatakan bahwa makanan yang manis itu bisa mengobati patah hati dan bad mood.
Aku hanya menatap wajahnya yang masih sedikit pucat dan mendengarkannya dengan setia karena antusias dengan apa yang ia lakukaan atau ia ceritakan.
“Semua orang hampir menyukai es krim bukan?” dia menatap ku lagi. Sialnya aku tertangkap mata karena menatapnya dengan serius, aku memalingkan wajah dan menyibukan diri dengan mengambil roti tanpa isi dan ku jejali roti itu dengan es krim tutti fruiti-ku.
“Termasuk kamu yang rakus, makan es krim sama roti” protes nya sambil tertawa kecil melihat kelakuanku melahap roti isi es krim.
“ini Enaaak, coba deh Rave” sambil menyodorkan roti isi eskrim kepadanya sebagai upaya mengkamufalse salah tingkahku barusan. Rave lantas mencoba mengunyahnya dengan lahap, lalu tersenyum lagi tanda setuju kalo itu kombinasi yang enak.
“yeee, enak kan, sekarang Rave ketularan rakus” aku tertawa puas. Dan Rave menjewer pipiku lagi. Kami pun kembali tertawa riang.
Mungkin, para pengunjung di kedai itu, melihat Aku dan Rave seolah pasangan kekasih romantis, yang sedang bersenda gurau. Tapi mereka salah besar. Kami tidak pacaran, #padahalmaunyagitu , tepatnya Rave punya pacar. Rave berpacaran dengan Jeremy. Mengenai Rave dan Jeremy aku tak tahu banyak karena Rave jarang sekali bercerita tentang hubungan mereka, setahuku mereka menjalin pertemanan semenjak mereka duduk di bangku SMA, lalu mereka saling menyukai dan berpacaran, Jeremy adalah pria tampan, menawan, smart dan terlihat cool, menurutku Jeremy seperti Rave versi cowok. Hanya itu yang ku tahu.
“Pulang yuk Sam, nanti ketinggalan jadwal nonton Anime ” ajak Rave kepadaku sekaligus mengingatkan.
“Iya, hampir lupa..ayook” jawabku sambil beranjak dari kursi. Mengikuti punggung Rave yang sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkan kedai itu.
Rave bercerita sambil menerawang kearah langit-langit, kalo dia sering makan es krim disini ketika masih kecil bersama ibunya. Ia menceritakan kesukaannya terhadap tempat ini dan kegemaran nya makan es krim, alasan dirinya suka sekali makan es krim karena ibunya pernah mengatakan bahwa makanan yang manis itu bisa mengobati patah hati dan bad mood.
Aku hanya menatap wajahnya yang masih sedikit pucat dan mendengarkannya dengan setia karena antusias dengan apa yang ia lakukaan atau ia ceritakan.
“Semua orang hampir menyukai es krim bukan?” dia menatap ku lagi. Sialnya aku tertangkap mata karena menatapnya dengan serius, aku memalingkan wajah dan menyibukan diri dengan mengambil roti tanpa isi dan ku jejali roti itu dengan es krim tutti fruiti-ku.
“Termasuk kamu yang rakus, makan es krim sama roti” protes nya sambil tertawa kecil melihat kelakuanku melahap roti isi es krim.
“ini Enaaak, coba deh Rave” sambil menyodorkan roti isi eskrim kepadanya sebagai upaya mengkamufalse salah tingkahku barusan. Rave lantas mencoba mengunyahnya dengan lahap, lalu tersenyum lagi tanda setuju kalo itu kombinasi yang enak.
“yeee, enak kan, sekarang Rave ketularan rakus” aku tertawa puas. Dan Rave menjewer pipiku lagi. Kami pun kembali tertawa riang.
Mungkin, para pengunjung di kedai itu, melihat Aku dan Rave seolah pasangan kekasih romantis, yang sedang bersenda gurau. Tapi mereka salah besar. Kami tidak pacaran, #padahalmaunyagitu , tepatnya Rave punya pacar. Rave berpacaran dengan Jeremy. Mengenai Rave dan Jeremy aku tak tahu banyak karena Rave jarang sekali bercerita tentang hubungan mereka, setahuku mereka menjalin pertemanan semenjak mereka duduk di bangku SMA, lalu mereka saling menyukai dan berpacaran, Jeremy adalah pria tampan, menawan, smart dan terlihat cool, menurutku Jeremy seperti Rave versi cowok. Hanya itu yang ku tahu.
“Pulang yuk Sam, nanti ketinggalan jadwal nonton Anime ” ajak Rave kepadaku sekaligus mengingatkan.
“Iya, hampir lupa..ayook” jawabku sambil beranjak dari kursi. Mengikuti punggung Rave yang sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkan kedai itu.
#Flashback
2 Tahun yang
lalu. Di kedai es krim yang sama.
Rave tersenyum simpul penuh arti dan terlihat lebih menarik dengan kemeja abu-abu bermotif kotak-kotaknya kali ini rambutnya tersisir rapih.
Rave tersenyum simpul penuh arti dan terlihat lebih menarik dengan kemeja abu-abu bermotif kotak-kotaknya kali ini rambutnya tersisir rapih.
“Ta daaaa,
Happy Birth Day” Rave menyodorkan sesuatu. Aku diam terpaku tak menyangka. Sebuah
surprise !!
Malam itu di hari ke dua belas di bulan April, Rave membuatkanku kue ulang tahun dengan motif Anime kesukaanku, SAO. Lengkap dengan tulisan “Happy Birth Day Sammy” diatas kepingan cokelat putih yang membuat kue itu semakin cantik dan tak lupa lilin dengan angka enam belas.
“Jangan lupa berdoa dan make wish ya, siapa tau terkabul!” Rave tersenyum simple lagi.
Aku meniup lilin angka enam belas itu, dan memejamkan mata dalam dua detik membuat permohonan. Kami merayakannya hanya berdua saja. Menikmati kue tart buatan Rave dan es Krim tentunya.
“Jessy, belum telepon juga?” Key bertanya singkat.
Jessy? Kenapa Rave nanya Jessy lagi sih?. Aku hanya menggeleng. Singkat cerita, Jessy adalah pacarku. tepatnya seminggu yang lalu, jadi sekarang dia sudah menyandang gelar mantan pacar. Jessy dan Aku bertahan pacaran hanya lima bulan saja. Kami menjalani hubungan LDR alias Long “Damn” Realtionship, atau pacaran jarak jauh, Akhir-akhir ini komunikasi kami mulai terasa tidak lancar. Ditambah Jessy yang tidak pernah suka dengan hobiku yang menyukai Anime. Terkadang itu menjadi bahan pertengkararan kami. Pada akhirnya kami memutuskan hubungan secara baik-baik. Tak ada yang harus di pertahankan.
“Sudah, jangan sedih. Mungkin dia sibuk” ujarnya seraya menghiburku.
Puh, tak ada telepon pun tak masalah bagiku, lalu ku hanya diam dan menikmati es krim dan kuenya lagi.
“yang penting…” Ujar Rave. Hening sejenak. Aku menunggu Rave melanjutkan kalimatnya.
Malam itu di hari ke dua belas di bulan April, Rave membuatkanku kue ulang tahun dengan motif Anime kesukaanku, SAO. Lengkap dengan tulisan “Happy Birth Day Sammy” diatas kepingan cokelat putih yang membuat kue itu semakin cantik dan tak lupa lilin dengan angka enam belas.
“Jangan lupa berdoa dan make wish ya, siapa tau terkabul!” Rave tersenyum simple lagi.
Aku meniup lilin angka enam belas itu, dan memejamkan mata dalam dua detik membuat permohonan. Kami merayakannya hanya berdua saja. Menikmati kue tart buatan Rave dan es Krim tentunya.
“Jessy, belum telepon juga?” Key bertanya singkat.
Jessy? Kenapa Rave nanya Jessy lagi sih?. Aku hanya menggeleng. Singkat cerita, Jessy adalah pacarku. tepatnya seminggu yang lalu, jadi sekarang dia sudah menyandang gelar mantan pacar. Jessy dan Aku bertahan pacaran hanya lima bulan saja. Kami menjalani hubungan LDR alias Long “Damn” Realtionship, atau pacaran jarak jauh, Akhir-akhir ini komunikasi kami mulai terasa tidak lancar. Ditambah Jessy yang tidak pernah suka dengan hobiku yang menyukai Anime. Terkadang itu menjadi bahan pertengkararan kami. Pada akhirnya kami memutuskan hubungan secara baik-baik. Tak ada yang harus di pertahankan.
“Sudah, jangan sedih. Mungkin dia sibuk” ujarnya seraya menghiburku.
Puh, tak ada telepon pun tak masalah bagiku, lalu ku hanya diam dan menikmati es krim dan kuenya lagi.
“yang penting…” Ujar Rave. Hening sejenak. Aku menunggu Rave melanjutkan kalimatnya.
“orang tua dan keluarga,
sudah telepon” lanjutnya sambil tersenyum.
Aku mendongak, menatapnya lekat-lekat lalu membalas senyumannya “Tentu saja, itu yang penting” timpalku kepadanya. Kamu juga penting banget Rave.
Rave selalu peduli dan selalu mencoba menghiburku. Seorang sahabat yang selalu ada untukku, diberikan surprise seperti ini adalah pertama kali dalam hidupku, ada orang lain di luar anggota keluargaku yang membuat perayaan spesial seperti ini khusus untukku hanya seorang teman seperti Rave yang melakukannya. Sahabat? Lalu bagaimana dengan Jeremy? Apakah dia melakukan hal yang sama kepadanya?
Pertanyaan-pertanyaan ini tiba-tiba muncul di kepalaku, Mengapa aku ingin tahu detail bagaimana Rave memperlakukan Jeremy? Bukan kah sebelumnya aku tak pernah peduli?
Aku mendongak, menatapnya lekat-lekat lalu membalas senyumannya “Tentu saja, itu yang penting” timpalku kepadanya. Kamu juga penting banget Rave.
Rave selalu peduli dan selalu mencoba menghiburku. Seorang sahabat yang selalu ada untukku, diberikan surprise seperti ini adalah pertama kali dalam hidupku, ada orang lain di luar anggota keluargaku yang membuat perayaan spesial seperti ini khusus untukku hanya seorang teman seperti Rave yang melakukannya. Sahabat? Lalu bagaimana dengan Jeremy? Apakah dia melakukan hal yang sama kepadanya?
Pertanyaan-pertanyaan ini tiba-tiba muncul di kepalaku, Mengapa aku ingin tahu detail bagaimana Rave memperlakukan Jeremy? Bukan kah sebelumnya aku tak pernah peduli?
“Barusan make a
wish apa?” Pertanyaan Rave membangunkan ku dari lamunan akibat
pertanyaan–pertayaan aneh yang bermunculan dari kepalaku.
“Rahasia” Aku menjawab spontan. Lalu memasang muka jahil.
“Pelit banget sihh” Rave pura-pura ngambek.
“Anyway Rave, thank a lot, you’re my best” Aku tersenyum. aku bahagia malam ini.
“Any time, Sam” balas Rave. Tersenyum simpul.
Malam itu diumur ku yang bertambah, Aku menyadari seorang duduk dihadapanku seperti sebuah es krim yang dalam diamnya terlihat cool, dalam senyumnya terasa manis, dan dalam katanya terdengar lembut. Dia yang membuatku menyadari sesuatu itu ada, tetapi sesuatu yang tak bisa aku jelaskan, tak bisa aku hitung dengan rumus matematika, dan tak bisa aku urai seperti senyawa kimia, dan sesuatu itu tidak hanya ada, tetapi hidup dan berdetak, dan kadang membuat dada ini sesak.
“Rahasia” Aku menjawab spontan. Lalu memasang muka jahil.
“Pelit banget sihh” Rave pura-pura ngambek.
“Anyway Rave, thank a lot, you’re my best” Aku tersenyum. aku bahagia malam ini.
“Any time, Sam” balas Rave. Tersenyum simpul.
Malam itu diumur ku yang bertambah, Aku menyadari seorang duduk dihadapanku seperti sebuah es krim yang dalam diamnya terlihat cool, dalam senyumnya terasa manis, dan dalam katanya terdengar lembut. Dia yang membuatku menyadari sesuatu itu ada, tetapi sesuatu yang tak bisa aku jelaskan, tak bisa aku hitung dengan rumus matematika, dan tak bisa aku urai seperti senyawa kimia, dan sesuatu itu tidak hanya ada, tetapi hidup dan berdetak, dan kadang membuat dada ini sesak.
Segerombolan awan hitam, tak hentinya menumpahkan air kebumi, menadakan besarnya kerinduan langit pada bumi. Debu-debu yang menempel di jalanan dan gedung tua pun ikut terhanyut olehnya, membuahkan aroma tanah yang menyaingi aroma roti yang baru keluar dari pemanggangan sore itu. Kedai itu tak berubah sedikitpun, semua interiornya tetap tua di makan usia.
Dua jam yang
lalu, aku dan Rave duduk bersama di kedai ini, wajahnya sudah tak sepucat dan
setirus dulu, rambut nya pun tak seberantakan dan sepanjang satu tahun yang
lalu, Rave terlihat baik-baik saja bukan?, Namun tak ada sedikit pun senyum
didalam air muka Rave, Dia bersikap dingin, sedingin es krim di mangkuk dan
cuaca di luar sana.
“Kenapa gak ada kabar Sam?” Rave menatapku serius. Nada suaranya dingin.
Aku tak sanggup memandang Rave, hanya tertunduk dan diam, lidah ini kelu untuk berucap memberi alasan yang sebenarnya.
“Aku sibuk Rave” Aku berbohong. “Maaf Rave, aku memang keterlaluan” ucapku sekali lagi. Menahan air mata yang nyaris keluar.
Setelah mendengar kata maaf itu Rave langsung mehenyakan punggungnya kesandaran kursi, seperti tak percaya hanya mendengar kata maaf dari seorang sahabat yang hanya pamitan lewat sms dan setahun kemudian tak ada kabar sedikitpun seperti menghilang di telan bumi. Aku tahu Rave pasti marah hebat kepadaku, tapi semenjak perasaan ini makin menguasai, persahabatanku dengan Rave terasa bias, tepatnya hanya aku yang merasa bias, aku tak kuasa lagi mempertahankan kepura-puraanku di depan Rave yang selalu bersikap baik kepadaku. Karena dengan sikap Rave yang seperti itu, sesuatu yang bernama perasaan ini seperti di beri pupuk, dan akan terus tumbuh, walau aku susah payah memangkas nya tapi ini akan terus tumbuh tak terkendali dan akan terus membuatku merasa bahagia dan sakit dalam waktu yang bersamaan. Maka ketika kesempatan bekerja di luar kota itu datang aku tak menyiakan nya.
“Kenapa gak ada kabar Sam?” Rave menatapku serius. Nada suaranya dingin.
Aku tak sanggup memandang Rave, hanya tertunduk dan diam, lidah ini kelu untuk berucap memberi alasan yang sebenarnya.
“Aku sibuk Rave” Aku berbohong. “Maaf Rave, aku memang keterlaluan” ucapku sekali lagi. Menahan air mata yang nyaris keluar.
Setelah mendengar kata maaf itu Rave langsung mehenyakan punggungnya kesandaran kursi, seperti tak percaya hanya mendengar kata maaf dari seorang sahabat yang hanya pamitan lewat sms dan setahun kemudian tak ada kabar sedikitpun seperti menghilang di telan bumi. Aku tahu Rave pasti marah hebat kepadaku, tapi semenjak perasaan ini makin menguasai, persahabatanku dengan Rave terasa bias, tepatnya hanya aku yang merasa bias, aku tak kuasa lagi mempertahankan kepura-puraanku di depan Rave yang selalu bersikap baik kepadaku. Karena dengan sikap Rave yang seperti itu, sesuatu yang bernama perasaan ini seperti di beri pupuk, dan akan terus tumbuh, walau aku susah payah memangkas nya tapi ini akan terus tumbuh tak terkendali dan akan terus membuatku merasa bahagia dan sakit dalam waktu yang bersamaan. Maka ketika kesempatan bekerja di luar kota itu datang aku tak menyiakan nya.
“Tapi kau baik-baik saja kan?” Ucap nya tenang.
Aku mendongak, menatapnya lekat-lekat. Air mataku hampir jatuh. Aku tak boleh menangis di depan nya, ini hanya akan membuatnya semakin cemas. Mulutku kembali terbuka, namun tak bersuara, lalu aku mengangguk. Kembali menunduk. aku tahu perasaan Rave sekarang campur aduk antara marah dan cemas namun Rave selalu baik dan memaafkanku yang bertindak bodoh.
“Lalu bagaimana denganmu Rave?” ucapku terbata.
Rave tak menjawab, dia mentapku lekat-lekat, mungkin sikapku terlihat aneh dan membingungkan bagi Rave sehingga membuat penasaran, terlihat dari raut wajahnya sepertinya ia ingin menumpahkan beribu-ribu pertanyaan atas sikapku ini. Namun Rave menyerah, dia menghenyakan kembali punggungnya kesandaran kursi. Sedikit demi sedikit suasana diantara kami pun mencair, seperti es krim di mangkuk ini pun mencair.
Layaknya langit, aku pun sama, duduk berjam-jam disini sedang menumpahkan kerinduan pada kedai ini, kerinduan pada Es krim, kerinduan pada Rave. Scene potongan kejadian di pelupuk mataku sudah habis kuputar, kini aku mengembalikan fokus pandanganku tertuju ke suatu benda di atas meja, benda yg sedikit tebal dari kertas, berwarna merah, pemberian Rave dua jam yang lalu.
Entahlah sudah berapuluh kali aku membolak balik benda itu, dan entahlah lah sudah berapa kali hati ini merasa terbolak balik karena melihat isinya. Sebagai sahabat ini adalah kabar baik untukku, namun sebagai orang yang sedang tertimpa perasaan aneh ini adalah kabar buruk bagiku. Lalu dimana aku harus menempatkan diriku sendiri?
Butuh setahun aku men-sinkronisasi-kan antara hati dan logika ini untuk mendapatkan jawabnya, di mangkuk es krim yang ketiga ini aku baru dapat pemahamanya, bahwa tak pernah ada yang berubah dari sikap Rave kepadaku, dia selalu ada untukku, melindungiku, menyangiku sebagai sahabatnya. Aku-lah yang terlalu egois, tak mau ambil tindakan serta resiko untuk menyatakan nya dan malah pergi menghilang darinya yang hanya membuat Rave terluka.
Hujan sudah reda diluar sana, nampaknya langit sudah puas menyatakan kerinduanya pada bumi, aku lantas beranjak dari kursi kedai itu, menuju meja kasir yang tinggi, pelayan tua itu menatapku lalu tersenyum megucapkan terimakasih, aku hanya membalas senyum sekedarnya. Perasaanku masih campur aduk dan terasa sesak.
Aku melangkah gontai keluar kedai, berjalan menuju Statsiun hendak meninggalkan kota ini, dan aku berjanji, minggu depan aku kan datang lagi ke kota ini, menjadi saksi ucapan janji abadi sehidup semati antara Rave dan Jeremy. aku akan hadapi semuanya, lari dari kenyataan adalah tidakan bodoh, bahwasanya sejauh apapun kita pergi, tak akan pernah membantu melupakan orang yang kita sayangi, yang membantu hanyalah sikap menerima kenyataan.
Biarlah aku menelan semua pahit dan sakit nya perasaan ini Rave, dan waktu yang akan mencernanya. Karena aku tahu, Rasa sakit ini hanya bersifat sementara, Karena secorong es krim akan menjadi obatnya, iya ‘kan???
-The End-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar